Breaking News

Rektor ITB Sarankan PTN Baru Di Jabar Kembangkan Ilmu Pertanian Rektor ITB Sarankan PTN Baru Di Jabar Kembangkan Ilmu Pertanian ILUSTRASI

Rektor ITB Sarankan PTN Baru Di Jabar Kembangkan Ilmu Pertanian Rektor ITB Sarankan PTN Baru Di Jabar Kembangkan Ilmu Pertanian ILUSTRASI


Rektor ITB Sarankan PTN Baru Di Jabar Kembangkan Ilmu Pertanian
Rektor ITB Sarankan PTN Baru Di Jabar Kembangkan Ilmu Pertanian

ILUSTRASI

BANDUNG-Pertanian di Indonesia sebenarnya bisa mencapai swasembada pangan. Namun kelemahannya, saat ini Indonesia kekuarangan ahli atau insinyur pertanian. Tanpa peran para pakar pertanian, tentu akan sulit untuk meningkatkan produktivitas produk-produk pertanian dalam negeri.

Maka munculnya rencana pendirian perguruan tinggi negeri (PTN) baru di Jabar diharapkan bisa menjawab kebutuhan pakar sumber daya manusia (SDM) di bidang pertanian. PTN baru tersebut disarankan mendalami pertanian atau teknologi agro.

Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmaloka Misana mengungkapkan, pertanian menjadi salah satu program prioritas pemerintah selain sains dan engineering. Ketiga bidang ini membutuhkan tenaga baru. Namun khusus untuk pertanian, sambung Akhmaloka, paling mendesak. Lanjut dia, pertanian berbeda dengan sains dan engineering yang lulusan PTN maupun perguruan tinggi swasta lebih kompetitif. Sedangkan pertanian perlu peran pemerintah untuk menghasilkan kualitas.

“Jadi bagus kalau di Jabar dikembangkan pertanian, perikanan dan agro. Insinyur pertanian kita kan kabarnya kurang. Maka bidang ini akan dilipatgandakan jumlah lulusannya sekarang,” jelasnya.

Menurutnya, pemerintah pusat sudah menyetujui rencana Pemprov Jabar yang ingin mendirikan PTN baru. Ada dua PTN yang disiapkan, yakni Unswagati Cirebon dan Unsil Tasikmalaya. “Kedua universitas itu sudah disetujui proses penegriannya,” katanya.

Ia menyatakan, Jabar memerlukan PTN baru di Cirebon dan Tasikmalaya karena jumlah penduduk di dua daerah ini sangat padat. PTN di Cirebon untuk membuka akses bagi masyarakat Pantura, dan Tasikmalaya untuk membuka akses pendidikan bagi Jabar selatan yang meliputi Tasikmalaya, Garut dan Ciamis. Selama ini akses pendidikan tinggi di Jabar terpusat di Bandung.

“Jadi sangat baik dibangun PTN di Tasik atau Cirebon, tentu akses akan bertatambah ke PTN,” katanya.

Hanya saja, pendirian PTN baru tersebut terkendala dengan syarat yang diatur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa PTN baru minimal harus memiliki lahan seluas 30 hektar. Unswagati Cirebon dan Unsil Tasikmalaya sudah dalam proses lima tahun lalu, namun hingga kini masih belum memenuhi syarat lahan tersebut.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, proses pendirian PTN ini dilakukan terhadap dua kampus yang sebelumnya dikelola yayasan, baik Unswagati maupun Unsil. Proses pembebasan lahan sudah dimulai sejak 2010. Ia berharap proses tersebut akan selesai akhir tahun ini. Pembebasan sendiri dilaukan Pemprov Jabar dan pemerintah daerah setempat. “Tinggal masalah tanah saja,” katanya.

Jika lahan 30 hektar sudah tersedia, nantinya seluruh aset tersebut dihibahkan ke pemerintah pusat cq Kemendikbud. Setelah itu, Kemendikbud yang melakukan proses penegerian. Untuk mempercepat pembangunan PTN, mulai tahun ini pola bantuan Pemprov Jabr diganti dengan bantuan keuangan. “Kita bantukan uang dari provinsi ke kota Cirebon, Tasimalaya, nah dua kota itu yang akan melakukan pembebasan lahan. Jadi kita tunggu,” katanya. man

<p>Your browser does not support iframes.</p>